Sejarah Banjir Jakarta dan Solusinya

0 34

 

Oleh
Asep Kambali*
Jakarta
sejak lama berada 2,5 meter di bawah permukaan laut (lihat pintu air Sunda
Kelapa).  Air buangan dari Ciliwung tidak
dibuang ke Laut Jawa, tapi dialihkan via kali Pakin menuju danau Pluit. Hal ini
dilakukan karena jika pintu air itu dibuka,  Pak SBY & kita gak bakalan bisa ngantor,
karena kawasan Monas, Bundaran Hotel Indonesia, Sudirman, Kuningan dan
sekitarnya bakal tenggelam.

Memperhatikan kenyataan demikian, banjir di
Jakarta tidak lagi bisa kita hindari. Hanya orang yang  tidak mengerti sejarah  dan “sok jago” yang bilang bisa
mengatasi banjir Jakarta. Oleh karena itu, banjir Jakarta seharusnya dikelola,
untuk dimanfaatkan sepenuhnya bagi kesejahteraan bersama.
Banjir terbesar di Jakarta tercatat dalam sejarah terjadi pada tahun 1918. Hampir
seluruh Jakarta kerendem, kala itu wilayah Jakarta masih belum seluas sekarang.
Salah satu yang paling parah adalah kawasan Jl. Sabang, Jakarta Pusat.
Kawasan Monas juga ikut terendam banjir. Foto : Istimewa.

Desain
tata kota Batavia tahun 1620 (nama sebelum Jakarta) dibuat oleh Simon Stevin
menyerupai kota Amsterdam. Dimana sungai diluruskan & kanal-kanal dibuat
agar banjir bisa direkayasa menjadi potensi kota.  Maka Batavia saat itu terkenal dengan sebutan
Batavia Queen of The East.

Namun
sayang seribu sayang, Pemerintah Perancis melalui Gubernur Jenderalnya di
Batavia, Daendels, tahun 1808-1811 menghancurkan kota benteng/kastil Batavia
itu, dan mengubur kanal-kanalnya menggunakan material tembok kota Batavia yang
dihancurkannya itu.
Saat
itu, Batavia dihantui penyakit kolera dari nyamuk mal-area (malaria). Dimana
kanal-kanal jadi dangkal karena pengendapan. Kanal-kanal itu jadi sarang nyamuk
malaria itu.
Daendels
pun mendirikan kota baru di Lapangan Banteng, Weltevreden, menggunakan sebagian
material tembok kota yang tersisa.

Mengelola
Banjir
Kini, Jakarta berjuang dengan banjir yang
terus menerus melanda. Pemerintah kehabisan akal, seraya putus asa. Banjir di
Jakarta seyogyanya jadi potensi, bukan musibah yang harus ditangisi.  Beberapa tips dan trik (gila dari saya) dalam
mengelola banjir.
Pemerintah
dan masyarakat seharusnya mendorong dan membangun kesadaran bersama bahwa
banjir harus dihadapi dengan cara membuat rumah-rumah tinggi seperti tradisi
orang Bugis, Makasar. Di mana rumah-rumah bertiang tinggi, sehingga ketika air
pasang, rumah mereka tidak tenggelam.
Kemudian, buatlah desain Wisata Banjir, dengan menampilkan Museum Banjir, yang
berisi segala hal ikhwal terkait banjir.  Sejarahnya, dokumentasi dan lain-lain.  Karena museum bisa jadi inspirasi jangka
panjang bagi generasi berikutnya.
Bikin
petualangan banjir pakai perahu karet, bikin wahana segala bentuk permainan di
masa banjir, bikin perlombaan  kompetisi
ketika banjir dan lain-lain. Kalau sudah demikian, banjir akan dinanti-nanti,
diharapkan dan dinikmati bersama.
Mau
maju???!! Jadilah “orang gila” yg mampu memandang kedepan dengan
berpijak pada pemahaman sejarah bangsa! Selamat menghadapi banjir, semoga
berhasil! ;).
*Penulis
adalah Sejarawan Pendiri Indohistoria (Komunitashistoria.org).

Leave A Reply

Your email address will not be published.